Pemrograman Fungsional

Pemrograman ini berdasarkan teori fungsi matematika, yaitu terdiri atas fungsi-fungsi seperti yang ada di matematika. Fungsi merupakan pembangun utama program sehingga fungsi-fungsi ini dapat melewatkan parameter dan mengembalikan nilai yang sudah di proses. Paradigma ini tidak mempersoalkan memorisasi dan struktur data, tidak ada pemilahan antara data dan program, tidak ada lagi pengertian tentang “variabel”, tidak dibatasi oleh variabel yang berasosiasi dengan lokasi memori, sehingga sebuah struktur data cukup ditangani sebagai sebuah nilai. Pemrogram tidak perlu lagi mengetahui bagaimana mesin mengeksekusi atau bagaimana informasi disimpan dalam memori, setiap fungsi adalah “kotak hitam (black box)”, yang menjadi perhatiannya hanya keadaan awal dan akhir. Dengan merakit kotak hitam ini, pemrogram akan menghasilkan program besar.
Berbeda dengan paradigma prosedural, program fungsional harus diolah lebih dari program prosedural (oleh pemroses bahasanya), karena itu salah satu keberatan adalah kinerja dan efisiensinya. Karena itu, dalam bahasa pemrograman fungsional , program adalah fungsi hasil komposisi dari fungsi-fungsi lain, apakah fungsi itu dasar atau hasil komposisi dari fungsi dasar. Pemrograman fungsional memperoleh hasil dengan cara mengaplikasikan fungsi terhadap argumen atau parameternya, yang juga dapat berupa fungsi.
Contoh pendekatan pemrograman ini yang sangat terkenal sampai sekerang adalah LISP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s