800px-Hong_Kong_Disneyland_Logo

Disneyland Hongkong Sukses Beradaptasi?

Hongkong Disneyland, dikenal sebagai taman hiburan yang berhasil di Hongkong dilihat dari jumlah kunjungan dan kenaikan pendapatan yang dihasilkan. Setelah sebelumnya Hong Kong Disnelyland mendapat respon buruk dan mengalamai kegagalandalam kurun waktu sekitar 1 tahun setelah pembukaannya pada tahun 2005, mulai dari masalagh kritik dan imperialism budaya Barat. Maka para eksekutif Disneyland berusaha untuk memenuhi konteks layanannya dengan kebudayaan Cina lokal, sehingga dengan inilah dapat dipelajari bahwa Disneyland kemudian mulai mengadopsi prinsip teori glocalization yang kemudian terbukti berhasil diimplementasikan.

Konsep Glocalization menekankan bahwa relokasi tema, produk, atau layanan di tempat lain memiliki kesempatan keberhasilan yang lebih tinggi ketika dikombinasikan dengan budaya lokal dimana mereka berada. Untuk mencocokkan konsep ini dengan tren globalisasi saat ini yaitu dapat dilakukan hanya ketika perusahaan dapat berhasil mengadaptasi keasingan tersebut, maka glokalisasi dapat sukses pula. Adaptasi membutuhkan fleksibilitas dan toleransi, bahkan termasuk dengan membedakan implementasi promosi. Salah satu kendala terbesar untuk efektivitas bagi para eksekutif yang bekerja di luar budaya asli mereka adalah kurangnya toleransi dari penduduk setempat.

Disney yang mengalami kegagalan pada awal pembukaannya tahun 2005 di Hong Kong setelah mengalami sukses tak terduga di Jepang menyadari bahwa dalam proses transfer aset dan gagasan keasingan terdapat hal tak terduga yang secara langsung mempengaruhi hasil globalisasi. Hong Kong Disneyland mendapat berbagai respon buruk seperti: kemarahan buruh, dan menerima kritik dari pemerintah Hong Kong dan partnernya sendiri. Di antara teguran tersebut, pengunjung dari dataran China mengungkapkan bahwa tidak akrab dengan budaya dan karakter Disney tersebut. Hingga akhirnya para eksekutif Disney menyadari bahwa Hong Kong Disneyland kurang melayani adat istiadat setempat dan butuh melakukan penyesuaian lokal serius agar dapat populer diantara penduduk lokal Cina dan Hong Kong.

Untuk menghindari masalah reaksi budaya, adat istiadat dan tradisi di Cina dan Hong Kong, Disney tentunya perlu mengintegrasikan dirinya kedalam konteks kebudayaan negara tersebut. Tantangan utama Hong Kong Disneyland adalah untuk menyesuaikan filosofi perusahaan dan budaya lokal Cina, lingkungan, dan pola pikir sekaligus mempertahankan tema Disney secara utuh. Sehingga Disney kemudian melakukan 4 perubahan glocalization utama yang membuat Hong Kong Disneyland menjadi sukses, yaitu:

  1. Pemotongan Harga

Karena pengaruh tingkat pendapatan penduduk Cina masih rendah pada tahun 2005 membuat harga tiket masuk ke taman cenderung terlalu tinggi bagi pengunjung lokal. Dengan dilakukannya pemotongan harga tiket masuk, terbukti bahwa banyak penduduk yang mau datang mengunjungi Disneyland. Ditambah lagi The Walt Disney Company yang berhasil menyampaikan pesan taman hiburan yang berbeda dari taman hiburan lainnya. Dengan menyesuaikan perekonomian Hong Kong yang meningkat, maka Hong Kong Disneyland menaikkan harga tiket masuknya kembali pada tahun 2009.

  1. Adaptasi terhadap kebiasaan pengunjung lokal

Pengunjung dari daratan cenderung untuk memilih paket wisata yang mencakup kelompok besar dimana pada awalnya, Hong Kong Disneyland tidak dapat menampung kelompok-kelompok besar seperti itu. Sehingga untuk mengatasi hal ini, Disneyland meningkatkan kapasitasnya, menambahkan atraksi lokal dan persembahan hiburan pada tahun 2008, seperti Disney Haunted Halloween, A Sparkling Natal , dan Disney Tahun Baru Cina dengan menggunakan bahasa Inggris dan dialek lokal Cina. Selain itu Disney juga meningkatkan kolaborasi dengan perusahaan wisata untuk mengarahkan kelompok tersebut kepada Disneyland dengan rangkaian kegiatan yang sesuai dengan tema Disneyland. Kemudian, Hong Kong Disneyland juga mencoba untuk melakukan penyesuaian kebiasaan makan dan preferensi makanan lokal, seperti memasukkan hidangan tradisional Cina yang kedalam menu-nya.

  1. Merubah dekorasi dan pengaturan

Feng shui, yang menjadi kepercayaan kuat bagi Cina, dimanfaatkan untuk memperbaiki desain taman hiburan Disney. Misalnya, taman dipindahkan ke pintu masuk utama sehingga menghadap ke arah yang tepat. Perubahan visual yang memukau tersebut dipercaya konsultan feng shui untuk dapat menjamin kemakmuran bagi taman tersebut. Kemudian Hong Kong Disneyland juga mulai mendistribusikan brosur yang menjelaskan bagaimana menikmati wahana. Disney bahkan hingga mempekerjakan “guestologists” untuk mengikuti parkgoers, orang-orang yang suka berjalan di taman, sekitar dengan stopwatch.

  1. Adaptasi Praktek Perburuhan

Budaya Cina yang lebih konservatif menimbulkan perselisihan dengan konsep Disneyfication, peraturan untuk pekerja selalu tersenyum saat bekerja. Disney juga harus menerima keluhan istirahat makan siang yang pendek makan, jam kerja yang panjang, dan terbatasnya jumlah staf serta keluhan mengenai upah yang rendah (dibandingkan dengan taman Disney lainnya) dari para anggota cast dan pekerja konstruksi. Untuk itu, Disney kemudian membuat penyesuaian glocalization dengan menyadari bahwa Disney harus menunjukkan fleksibilitas, mengingat beragam budaya di Asia. Akibatnya, Disney harus mengubah arah lagi. Kini, karyawan memiliki serikat pekerja yang disebut Union Hong Kong Disney Cast Members, yang bertujuan untuk meningkatkan upah dan ketentuan pekerjaan.

Keberhasilan yang dibawa oleh glocalization membuat para eksekutif Disney mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas taman. Perubahan yang dilakukan Disney merupakan perwujudan dari keberhasilan perusahaan global yang menunjukkan fleksibilitas dan penyesuaian dengan preferensi lokal untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi dan tetap kompetitif di arena global. Perusahaan tidak hanya mengadaptasi ide, tema, produk, dan jasa, tetapi juga seluruh organisasi termasuk filosofi perusahaan dan strategi, prosedur operasional, dan model hubungan atasan-karyawan ,untuk diadaptasikan dengan budaya lokal dan konsep global yang dilakukan perusahaan, dimana hal ini terkait erat dengan konteks dan lingkungan sosial budaya dimana bisnis tersebut dilakukan.

Source: “Disney’s successful adaptation in Hong Kong: A glocalization perspective” by Jonathan Matusitz

Photo credit: wikipedia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s