A Study in Failure of Merger

The DaimlerChrysler Mitsubishi merger: a study in failure by Jason Begley and Tom Donnelly

DaimlerChrysler Group mulai memperhatikan pasar Asia pada tahun 2000 dalam upayanya untuk masuk ke pasar global. Kerjasama dengan perusahaan Jepang tentunya menawarkan economies of scale and scope, khususnya di pasar mobil sub-compact agar DaimlerChrysler dapat menjadi produsen berskala besar. Namun dalam waktu 4 tahun, impian untuk memproduksi skala trans-nasional tersebut hancur. Nilai saham anjlok, keuntungan menyusut dan terbelit hutang. Kegagalannya dalam berintegrasi dengan perusahaan Jepang seolah menjadi boomerang bagi DaimlerChrysler sehingga harus memecat CEO-nya yaitu Jürgen Schrempp. Dalam upayanya untuk masuk ke pasar global, merger lintas internasional adalah salah satu fitur kunci dari kebanyakan perusahaan otomotif.

Untuk mengikuti tren yang sedang berkembang tersebut, Daimler-Benz memutuskan untuk mengikuti dengan menggabungkan dengan Chrysler of America pada tahun 1998 dan dengan Mitsubishi dari Jepang dua tahun kemudian untuk memperkuat dirinya dari serangan kompetitor, contohnya Smart car, dimana pengetahuan Mitsubishi di bidang pengembangan, produksi dan distribusi mobil penumpang dan kendaraan komersial yang ringan membuat kerjasama dengan perusahaan Jepang menjadi lebih menarik. Langkah pertama kerjasama dengan Mitsubishi telah terjadi di bawah kepemimpinan pendahulu Schrempp, Werner Reuter, yang telah memulai serangkaian negosiasi dengan Mitsubishi Motor Corporation untuk membangun kerjasama yang lebih erat antara kedua perusahaan. Kerjasama ini berlangsung sampai akhir 1980-an ketika hubungan dalam melihat kompetisi memunculkan ketegangan antara kedua perusahaan. Meskipun demikian, kerjasama berlanjut sampai tahun 1993. Setelah itu Chrysler melepaskan diri dari saham Mitsubishi-nya.

Pada pertengahan tahun 90an pasar Jepang memasuki resesi sehingga penjualan mobil pada umumnya di Timur turun sebesar 7%. Hal apa yang penting adalah bahwa Jepang membukukan kerugian besar sementara, dimana penjualan di pasar AS terbukti relatif tinggi dan mungkin karena faktor inilah, ditambah dengan hubungan relatif dekat dengan Chrysler, yang mendorong DaimlerChrysler untuk membeli saham 34% ($2,1 milyar) di perusahaan Jepang pada Mei 2000. Untuk menanggapi datangnya situasi krisis akibat resesi tersebut, Schrempp mengumumkan rencana untuk merestrukturisasi unit Chrysler dan Mitsubishi pada bulan Februari 2001. Strategi baru tersebut akan memecat ribuan karyawan white-collar, membatalkan pengembangan kendaraan dan membagi onderdil mobil antara Chrysler dan Mitsubishi. Sedangkan dari sisi Mitsubishi, cara untuk bertahan resesi ekonomi dan menjaga masa depannya adalah dengan mencari pasar baru di luar negeri atau menjalin hubungan dengan mitra asing. Dari dua pilihan tersebut, pilihan terakhir dianggap lebih layak untuk jangka pendek. Dengan begitu, rencana pemulihan dilakukan dengan diterima bahwa DaimlerChrysler akan mencatat kerugian sebesar $ 2,5 miliar pada tahun 2001 dan akan mengambil biaya restrukturisasi sebesar $ 2,8 miliar. Hal ini berdampak pada penurunan keuntungan dan merusak citra DaimlerChrysler.

Dari peristiwa diatas, dapat dilihat bahwa merger antara DaimlerChrysler dan Mitsubishi tersebut gagal dan alasan untuk hal ini tidak dapat dilepaskan dari masalah awal yang dimiliki Chrysler di Amerika Serikat dan Daimler sendiri yang belum terselesaikan. Selain itu juga dari awal kelemahan Mitsubishi yang cukup besar, dimana kinerja keuangan yang buruk sehingga banyak produk berlebih, terlalu banyak model di setiap segmen, gambar pasar yang lemah hingga kelemahan serius dari sisi kualitas fasilitas manufaktur. Selain itu, beberapa hal yang dapat dipelajari dari kegagalan merger DaimlerChrysler dengan Mitsubishi adalah sebagai berikut:

  • Meningkatnya persaingan di sektor manufaktur mobil global, dikombinasikan dengan kebutuhan untuk meningkatkan skala dan cakupan, membuat Daimler – Benz hanya memiliki sedikit alternatif untuk ekspansi ke luar negeri.
  • Kurangnya evaluasi atas perusahaan target, dimana ditambah pula dengan banyaknya kesulitan dari sisi Mercedes dan Chrysler yang belum diselesaikan. Pentingnya melakukan evaluasi sebelum merger dapat membantu membangun kekuatan dan mengatasi kelemahan masing-masing pihak.
  • Tidak ada strategi integrasi yang jelas pasca merger baik dari sisi DaimlerChrysler maupun Mitsubishi, sehingga hal ini menyebabkan kecemasan diantara angkatan kerja dan tokoh penting dalam struktur manajemen.
  • Keputusan untuk melakukan kerjasama dengan Mitsubishi yang memiliki budaya pengelolaan perusahaan yang kontras dengan Daimler merupakan suatu kesalahan serius dalam judgement, dalam dimana dalam hal ini resesi juga berlangsung cukup lama dalam perekonomian Jepang.
  • Motivasi merger yang tidak hanya untuk memaksimalkan pertumbuhan, tetapi juga dalam menambah status manajerial. Hal ini tentunya memberikan dampak yang tidak baik bagi hubungan kerjasama kedua pihak.

Oleh karena itu, gagalnya merger yang terjadi antara DaimlerChrysler maupun Mitsubishi tersebut didasari oleh timing yang kurang tepat. Penting pula bagi masing-masing perusahaan untuk memikirkan strategi yang matang pasca integrasi. Selain itu pentingnya memikirkan konsekuensi dalam melakukan perenggangan sumber daya pada saat krisis ekonomi, terutama ketika hal itu dapat mengancam keberadaan rekan yang dominan tersebut.

**Source: Begley, J. & T. Donnelly (2011). “The DaimlerChrysler Mitsubishi Merger: A Study of Failure”. International Journal of Automotive Technology & Management. 11, 1.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s