Sustainability is the Key Driver of Innovation

“Why Sustainability Is Now the Key Driver of Innovation” 
by Ram Nidumolu, C.K. Prahalad, and M.R. Rangaswami

Sustainability, yang dapat diartikan sebagai keberlangsungan, bukanlah beban yang perlu digarisbawahi oleh banyak eksekutif. Menjadi ramah lingkungan pun sudah dapat menurunkan biaya dan meningkatkan pendapatan perusahaan. Namun kini sustainability sudah mulai mengubah pendangan kompetitif yang akan memaksa perusahaan untuk mengubah cara berpikir tentang produk, teknologi, proses, dan model bisnis yang digunakan. Kunci untuk memajukan perusahaan, terutama di saat krisis ekonomi, adalah perlunya membuat inovasi. Itu sebabnya sustainability harus menjadi batu ujian bagi semua inovasi. Di masa depan, hanya perusahaan dengan menjadikan sustainability sebagai tujuannya yang akan mencapai keunggulan kompetitif. Berarti perusahaan harus memikirkan kembali model bisnis serta produk, teknologi, dan proses yang dilakukan. Untuk menciptakan sustainability dalam perusahaan terdapat lima tahap untuk melakukan perubahan, dimana setiap tahap memiliki tantangan tersendiri, yaitu:

Tahap 1: Viewing Compliance as Opportunity

Perusahaan harus menempuh perjalanan yang panjang untuk memperoleh sustainability yang biasanya muncul dari “hukum”. Perusahaan yang fokus pada pemenuhan norma-norma baru mendapatkan lebih banyak waktu untuk bereksperimen dengan bahan, teknologi, dan proses. Untuk itu, perusahaan membutuhkan kemampuan untuk mengantisipasi dan membentuk peraturan serta keterampilan dalam bekerja sama dengan perusahaan lain, termasuk rival, untuk menerapkan solusi kreatif. Dengan demikian perusahaan kemudian dapat melihat peluang inovasi dengan menggunakan kepatuhan terhadap hukum tersebut untuk mendorong perusahaan dan mitra-mitranya dalam bereksperimen dengan teknologi, material, dan proses yang berkesinambungan.

Tahap 2: Making Value Chains Sustainable

Setelah perusahaan dapat mematuhi peraturan, makan perusahaan menjadi lebih proaktif tentang isu-isu lingkungan. Kemudian mulai banyak fokus mengenai pengurangan konsumsi sumber daya tak terbarukan untuk menjadi lebih efisien dengan melakukan perencanaan dari fasilitas manufaktur dan kantor menggunakan value chain . Pada tahap ini, perusahaan bekerja sama dengan pemasok dan pengecer untuk mengembangkan bahan baku ramah lingkungan dan komponen yang dapat mengurangi limbah. Hal ini salah satunya untuk menciptakan citra yang lebih baik bagi perusahaan. Perusahaan perlu mengembangkan operasional berkelanjutan dengan menganalisis setiap link dalam value chain.

Supply chain, banyak perusahaan besar yang mendorong pemasoknya untuk menjadi sadar lingkungan dengan menawarkan insentif.

Operations, pusat untuk membangun supply chain adalah dengan inovasi operasional berkesinambungan yang mengarah pada efisiensi energi yang lebih besar dan mengurangi ketergantungan perusahaan pada bahan bakar fosil .

Workplace, Salah satunya dipengaruhi juga oleh masalah lingkungan, dimana beberapa perusahaan kemudian mendorong karyawannya untuk bekerja dari rumah. Hal ini dapat menurunkan waktu tempuh , biaya perjalanan , dan penggunaan energi .

Innovation Opportunities, mengembangkan sumber bahan baku dan komponen yang berkelanjutan. Meningkatkan penggunaan sumber energi yang bersih seperti angin dan tenaga surya. Menemukan penggunaan inovatif untuk produk yang dikembalikan.

Tahap 3: Designing Sustainable Products and Services

Pada tahap ini eksekutif mulai sadar bahwa sebagian besar konsumen lebih memilih penawaran yang ramah lingkungan, dan bahwa mereka dapat menjadi yang pertama untuk mendesain ulang produk yang sudah ada atau bahkan mengembangkan baru. Untuk mengidentifikasi prioritas inovasi produk, perusahaan harus menggunakan kompetensi pada tahap awal evolusi. Untuk desain produk yang berkelanjutan, perusahaan harus memahami kekhawatiran konsumen dan teliti memeriksa siklus hidup produknya. Mereka harus belajar untuk menggabungkan keterampilan pemasaran dengan keahlian mereka dalam meningkatkan pasokan dan distribusi bahan baku. Perusahaan dapat menemukan peluang untuk invoasi dalam menerapkan teknik baru pengembangan produk dan mengembangkan kemasan yang ramah lingkungan. Contohnya seperti P&G dan Clorox yang terus berinvestasi dalam produk ramah lingkungan untuk mengasah kompetensi yang akan memungkinkan mereka untuk mendominasi pasar nantinya.

Tahap 4: Developing New Business Models

Dalam mengembangkan model bisnis baru, perusahaan perlu mengeksplorasi alternatif pada saat melakukan bisnis dan memahami bagaimana perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang berbeda. Eksekutif perlu belajar untuk mempertanyakan model yang ada untuk mengembangkan mekanisme pengiriman yang baru. Pengalaman akan membawa perusahaan menjadi lebih mahir dalam berinovasi, sehingga dapat melihat peluang dalam pengembangan teknologi pengiriman yang mengubah hubungan value chain secara signifikan, menciptakan model yang lebih mengutamakan jasa daripada produk, ataupun merancang model bisnis yang mengintegrasikan infrastruktur digital dan fisik.

Tahap 5: Creating Next-Practice Platforms

Selanjutnya yaitu mengubah paradigma yang ada. Untuk mengembangkan inovasi yang mengarah pada tahap berikutnya, eksekutif harus mempertanyakan asumsi implisit di balik pelaksanaan saat ini, yang mengarah pada kondisi industri dan layanan saat ini. Sustainability dapat mengarahkan perusahaan pada pelaksanaan platform berikutnya,. Salah satunya dengan kemunculan internet dan manajemen energi, yang disebut smart grid, yaitu menggunakan teknologi digital untuk mengelola pembangkit listrik, transmisi, dan distribusi dari semua jenis sumber bersama dengan permintaan konsumen. Dari sini perusahaan dapat melihat peluang untuk berinovasi membangun platform bisnis yang memungkinkan pelanggan dan pemasok untuk mengelola energi dengan cara berbeda dan merancang teknologi yang akan memungkinkan industri untuk menggunakan energi yang dihasilkan sebagai produk sampingan.

Terdapat 2 inisiatif yang dapat membantu keberlanjutan perusahaan. Pertama, ketika tim top manajemen perusahaan memutuskan untuk fokus pada masalah, maka lakukan perubahan tersebut secara cepat. Kedua yaitu dengan merekrut dan mempertahankan orang yang tepat. Perusahaan perlu mengembangkan solusi inovatif. Itu akan terjadi hanya bila eksekutif sadar bahwa: Sustainability = Inovasi.

**Source: Nidumolu, R.; C. K. Prahalad & M. R. Rangaswami (2009). “Why Sustainability is Now the Key Driver of Innovation”. Harvard Business Review. September.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s