VALUE NETWORK PADA INDUSTRI MOBILE PHONE (Case study: Japan Industry)

“The emerging value network in the mobile phone industry: The case of
Japan and its implications for the rest of the world” by Jeffrey L. Funk

Struktur industri ponsel kini sudah beralih dari value chain menjadi value network. Value network melibatkan sejumlah besar perusahaan, satu set hubungan yang lebih kompleks daripada yang diterapkan pada value chain. Value chain merepresentasikan industri dengan aktivitas value-adding sedangkan value network lebih cocok untuk industri yang mementingkan berbagai cara agar perusahaan dan pelanggan dapat terhubung satu sama lain, seperti industi perbankan, asuransi, iklan, dan Internet. Dengan menggunakan pasar Jepang sebagai contoh, kita dapat melihat bahwa peralihan tersebut membutuhkan bentuk yang berbeda mulai dari penetapan standar, pembuatan kebijakan dan manajemen yang selama ini diterapkan pada industri ponsel tersebut. Perusahaan musik, animasi, video, dan permainan sudah menjadi bagian penting dari industri ponsel di sebagian besar negara dan di Jepang, serta segala jenis perusahaan lainnya yang menggunakan Internet untuk mengelola operasi internal. Oleh karena itu, peneliti kemudian membangun konsep dasar dan metode dalam penelitian ini untuk melihat bagaimana value network melibatkan berbagai kemunculan industri di Jepang.

Konsep Dasar dan Metode Penelitian

Konsep value network menghubungkan berbagai penjual dan pembeli dalam suatu single node, seperti PC dan Internet dalam industri jaringan dimana bahwa tidak hanya Internet yang digambarkan sebagai salah satu value network besar, tapi berbagai perusahaan individu dalam Internet didefinisikan sebagai jaringan pembeli dan penjual, dan penyedia produk komplementer melalui berbagai platform sehingga lebih tepat jika direpresentasikan sebagai value network daripada value chain. Selain itu eksternalitas jaringan yang lebih luas pada value network akan menciptakan critical mass of user didalamnya bahkan sebelum perkembangan terjadi, maka perusahaan harus fokus pada rangkaian tepat tentang kebutuhan pasar dan atribut produk, termasuk didalamnya seperti termasuk orangorang dari ponsel, layanan operator, dan konten yang semuanya harus sesuai dengan standar interface yang menghubungkan.

Penelitian ini akan fokus pada konten dan aplikasi yang sukses dan alasan dibalik kesuksesan mereka dengan menyelidiki teknologi dan standar interface yang diperlukan untuk konten dan aplikasi baru. Dalam hal ini penulis menerapkan konsep critical mass, interaksi antara pasar dan produk, dan value network pada munculnya dan evolusi standar interface tersebut.

  • Hiburan: Konten hiburan seperti screen saver dan nada dering memainkan peranan utama dalam penciptaan critical mass pertama pengguna Internet mobile. Perubahan teknologi ini berdampak pada value network dimana para manajer perlu merespons secara efektif terhadap perubahan ini dengan meningkatkan ketergantungan mereka pada penyedia konten dan teknologi yang spesifik untuk mendapatkan ide-ide tentang konten dan teknologi baru.
  • Situs Internet Umum: Perubahan teknologi dapat menyebabkan perubahan lebih lanjut dalam standar interface ini dan dengan demikian memungkinkan perusahaan lain untuk mengisi structural hole yang terkait dengan hal tersebut. Dimana pertumbuhan pada banyak layanan tergantung dengan adanya push-based Internet mail yang murah dan dan akses situs melalui masukan dari URL.
  • Penerbitan: Banyaknya surat kabar, majalah, retail outlet, restoran, dan perusahaan lain yang membuat situs seluler menyediakan pasar yang siap untuk kode bar 2D dan memfasilitasi pembentukan critical mass of user untuk mereka. Hal ini menjelaskan interaksi antara kebutuhan di industri penerbitan dan atribut produk pada ponsel.
  • Layanan location-based: Format untuk Global Positioning Services (GPS) dan map telah memungkinkan hubungan antara ponsel. Berbagai layanan seperti reservasi hotel, real estate, dan retail outlets pada situs mobile menyediakan pasar yang siap untuk location-based services sehingga memfasilitasi pembentukan critical mass of user. Seperti kemampuan untuk menyertakan link kedalam map dan layanan GPS kedalam 2D bar codes membantu menghubungkan ponsel dengan lokasi fisik, mengisi structural hole, dan memperluas cara bagi perusahaan untuk membangun value network.
  • Sistem ritel dan ticketing: Kemunculan “wallet phone” di Jepang memungkinkan koneksi yang akan dibuat antara industri ponsel dan ritel/ticketing memungkinkan pengguna untuk menghemat waktu dan membuat pembelian lebih cepat.
  • Penyiaran: Pasar untuk program televisi yang ada dan layanan broadcasting-related mobile Internet membantu dalam memahami evolusi potensi aplikasi tersebut. Yaitu dimana banyak pengguna Jepang yang mengunduh nada dering yang terbuat dari tema lagu suatu program ataupun screen saver dari tokoh animasi tertentu.

Hingga saat ini struktur industri bisa digambarkan dalam hal dua value chain yang relatif independen untuk produsen ponsel dan operator. Dengan penambahan kompatibilitas Internet dan fungsi lainnya, struktur industri ponsel secara bertahap berubah ke value network di mana perusahaan dari industri yang luas berinteraksi dalam penyediaan berbagai layanan yang berhubungan dengan Internet mobile. Perbedaan antara value network dan value chain ini memiliki tujuh implikasi bagi industri ponsel, yaitu:

  1. Value network melibatkan banyak perusahaan dan hubungan yang lebih kompleks. Konsep structural hole berguna untuk memahami perkembangan persaingan dalam industri ponsel Jepang.
  2. Perubahan dari value chain menjadi value network memiliki implikasi strategis yang penting bagi perusahaan dalam industri ponsel, dimana perusahaan dapat menggunakan platform multisided untuk menangani berbagai jenis pembeli dan penjual melalui struktur harga yang berbeda dan pengaturan berbagi informasi.
  3. Perubahan dari value chain menjadi value network membuat isu critical mass jauh lebih kompleks, dimana pertumbuhan Internet mobile di Jepang mencerminkan penciptaan critical mass untuk standar interface tertentu.
  4. Produk dan jasa yang dihasilkan untuk standar interface baru yang menghubungkan ponsel dan industri lainnya dapat mencerminkan produk dan jasa yang digunakan dalam industri lain dan kemampuan teknologi ponsel tersebut.
  5. Perubahan dari value chain menjadi value network menunjukkan bahwa metode terbaru dari pengukuran “progress” dalam industri ponsel tidak hanya berdasarkan difusi SMS tetapi juga perlu melibatkan konten hiburan dan non-hiburan.
  6. Standar interface memainkan peran utama dalam value network dan memiliki ketergantungan tinggi.
  7. Pembuat kebijakan perlu terlibat untuk menetapkan aturan yang tepat di berbagai industri, dimana para akademisi dapat membantu dengan melakukan penelitian lebih lanjut di mobile Internet, termasuk struktur industri, arus pendapatan potensial, dan proses penetapan standar.

Source: http://dl.acm.org/citation.cfm?id=1507957

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s