Konsep 3E Dalam Manajemen Strategic

Entrepreneurship dan Strategic Management merupakan dua disiplin ilmu yang berbeda namun memiliki kesamaan kontribusi terhadap suatu organisasi atau perusahaan, yaitu dalam hal fokus pada growth dan wealth creation.

Integrating Entrepreneurship and Strategic Management

Strategic Entrepreneurship merupakan integrasi dari entrepreneurship dan pengetahuan strategic management yaitu melihat peluang yang ada yang terjadi di lingkungan eksternal dan mengembangkannya menjadi suatu competitive advantage yang berkelanjutan.

Theoretical Framework

Dalam teori Resource-Based View (RBV), terdapat dimensi khusus dalam strategic entrepreneurship yang mengintegrasikan komponen human capital, social capital, organizational learning dan creative cognition. Dalam dimensi khusus tersebut, Entreprenurial Mindset, Entreprenurial Culture, dan Entreprenurial Leadership merupakan komponen pada sesi utama integrasi tersebut, yang dapat dilihat pada gambar berikut:

asdA Model of Strategic Entrepreneurship

ENTREPRENEURIAL MINDSET
Entrepreneurial mindset dipandang sebagai cara berpikir tentang bisnis dalam menangkap keuntungan dari ketidakpastian (uncertainty) dalam menentukan probabilitas di masa depan.
Effectuation: Membantu entrepreneur mengenal dan mengambil apa yang mereka miliki serta memilih hasil yang memungkinkan dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian.
Growth-oriented perspective: Entrepreneur  harus mampu mengembangkan cognitive adaptability sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Cognitive adaptability: Menggambarkan bahwa seorang entrepreneur yang dinamis, fleksibel, mampu mengorganisir diri sendiri, dan terlibat pada proses dalam kerangka kerja keputusan. Cognitive adaptability juga menunjukkan bahwa entrepreneur mampu untuk terus berinovasi dan melakukan pembaharuan.

Ada 4 komponen dari entrepreneurial mindset, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Mengenali peluang entrepreneurial

    Peluang entrepreneurial muncul ketika barang baru, jasa, bahan baku, dan metode pengaturan diperkenalkan dan dijual dengan harga melebihi biaya produksi. Peluang ini muncul  karena adanya  informasi asimetris antar individu dalam  mengembangkan keyakinan tentang nilai saat ini suatu sumber daya serta nilai masa depan ketika sumber daya akan ber transformasi dari input menjadi  output. Perubahan-perubahan yang menyebabkan  munculnya segmen pasar baru dapat menciptakan peluang entrepreneurial.

  • Entrepreneurial alertness

    Sering disebut sebagai flashes of superior insight. Hal ini berarti mampu dalam  mengidentifikasi barang atau jasa menjadi layak. Selain itu, barang atau jasa yang ada menjadi berharga bagi konsumen. Wawasan entrepreneur mempengaruhi pencarian  pasar yang diterapkan pada barang atau jasa baru. Entrepreneur yang siap siaga menunjukkan bahwa mereka memiliki entrepreneurial mindset. Hal ini akan terlihat seperti suatu kebiasaan dengan beberapa karakteristik, termasuk memiliki semangat dalam mengejar peluang, disiplin dalam mengejar peluang yang menjanjikan, konsisten dan fokus pada eksekusi, serta berkomitmen untuk melibatkan semua orang dalam mengidentifikasi dan mengejar peluang.

     

  • Pemikiran logis secara nyata

    Real options logic, yang meningkatkan tingkatan fleksibilitas strategi (Mosakowski, 2002), membantu perusahaan-perusahaan dan  para wirausahawan guna mengatasi ketidakpastian yang berhubungan dengan proses identifikasi dan mengejar peluang berwirausaha (Hoskisson & Busenitz, 2002; McGrath, 1999). Dalam keadaan tertentu, perusahaan yang menggunakan real options logic kemungkinan dapat membatasi investasi awal dalam sebuah inisiatif yang dibatasi oleh peluang berwirausaha. Sebagai sebuah real option, investasi yang terbatas menghasilkan sebuah informasi yang menyarankan mengenai adanya potensi wealth creation apabila dilakukan investasi lebih lanjut dalam peluang yang telah diketahui tersebut. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih percaya diri dalam keputusannya beralokasi guna mengejar atau tidak mengejar sebuah peluang.

     

  • Entrepreneurial framework

    Termasuk di dalamnya tindakan-tindakan seperti menetapkan tujuan-tujuan, menciptakan daftar peluang-peluang, dan menentukan waktu yang tepat sehubungan dengan peluncuran strategi yang dibutuhkan untuk mengeksploitasi peluang entrepreneurial. Selain itu, framework ini harus digunakan secara berkesinambungan sepanjang pelaksanaan dan waktu pengerjaan proyek untuk memastikan adanya perlakuan yang sama sebagaimana perusahaan mengevaluasi alternatif-alternatif lain dalam hal alokasi sumber daya. Menempatkan semua peluang-peluang ke dalam sebuah daftar (disebut dengan oppotunity register) membuatnya terlihat oleh berbagai pihak, dimana beberapa pihak di dalamnya telah mempunyai kapabilitas yang dibutuhkan untuk mewujudkan peluang tersebut. Dengan demikian, peluang-peluang yang teridentifikasi oleh salah satu pihak di dalam perusahaan tersebut dapat dieksploitasi lebih lanjut oleh divisi-divisi atau unit-unit lain dimana peluang-peluang tersebut kemungkinan lebih bermanfaat.

    Pada akhirnya, sebuah entrepreneurial framework termasuk di dalamnya sebuah pengenalan terhadap waktu pelaksanaan yang tepat guna mengeksploitasi peluang-peluang entrepreneurial (Miller & Folta, 2002). Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan yang mengikuti strategi prospektor (perusahaan yang mengejar peluang-peluang berwirausaha tersebut) (Miles & Snow, 1978) lebih terfokus dalam menilai dan menggunakan peluang-peluang berwirausaha untuk bertindak secara cepat, sementara perusahaan yang menggunakan strategi bertahan (defender) lebih memperhatikan mengenai kapan saat yang tepat guna mengeksploitasi peluang berwirausaha. Dengan demikian, prospektor menggunakan peluang-peluang berwirausaha sebagai jalan guna menjadi pihak yang pertama kali bertindak dan sebaliknya, perusahaan yang bertipe defender akan menyamakan keistimewaan, kemampuan yang unik terhadap peluang berwirausaha sebagai pihak yang bertindak belakangan.

ENTREPRENEURIAL CULTURE
Menurut Hitt, Ireland, dan Simon (2003), entrepreneurial culture yang efektif dikarakteristikkan sebagai jumlah ekspektasi dan upaya perusahaan untuk mengelola sumber daya yang dimiliki secara strategis, sehingga hal tersebut merupakan salah satu pengharapan ide-ide baru dan kreatifitas, pendorong dalam pengambilan risiko, mentoleransi kegagalan, mengutamakan pembelajaran, serta inovasi, produk, proses, dan memandang setiap perubahan sebagai suatu peluang. Menurut McGrath dan MacMillan (2000) dalam Hitt et al, entrepreneurial culture dapat mendukung pencarian peluang secara terus-menerus yang dapat dimanfaatkan bersamaan dengan competitive advantageEntrepreneurial culture di organisasi dapat berkembang jika para pemimpin organisasi sudah memiliki entrepreneurial mindset di dalam diri mereka. Para pemimpin yang memiliki entrepreneurial midset tersebut akan terus mencari peluang dalam ketidakpastian lingkungan bisnis dan menentukan kapabilitas yang dibutuhkan untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Menurut Hisrich, Peters, dan Shepherd (2013), terdapat beberapa factor dan karakteristik kepemimpinan dalam membangun entrepreneurial culture dalam suatu organisasi. Yaitu:

  1. Organization operates on the frontiers of technology and new ideas encouraged

Penelitian dan pengembangan merupakan sumber penting dalam menciptakan kesuksesan untuk ide produk yang baru. Perusahaan sebaiknya beroperasi dengan menggunakan teknologi industri yang terdepan, mengedepankan dan mendukung ide-ide baru.

  1. Trial and error encouraged and failures allowed

Kesuksesan suatu produk atau jasa yang baru tidak terjadi dengan waktu yang singkat. Kesuksesan tersebut membutuhkan waktu dan kegagalan dari produk-produk tersebut. Hampir setiap entrepreneur mengalami setidaknya satu kali kegagalan dalam mencapai kesuksesan.

  1. No opportunity parameters

Setiap anggota organisasi harus yakin bahwa tidak ada penghalang, termasuk dari dalam organisasi sendiri, untuk meciptakan kreatifitas produk-produk yang baru.

  1. Resources available and accessible

Sumber daya yang dimiliki oleh suatu perusahaan untuk beroperasi harus tersedia dan dapat diakses oleh anggota perusahaan tersebut.

  1. Multidiscipline teamwork approach and long time horizon

Dengan melibatkan setiap orang yang relevan dalam suatu pekerjaan di perusahaan tanpa dipengaruhi oleh keberadaan orang tersebeut di struktur perusahaan dapat menjadi kunci kesuksesan. Selain melakukan kerja sama, lingkungan perusahaan.

  1. Volunteer program

Semangat kewirausahaan tidak dapat dipaksakan dalam setiap individu, yaitu didasarkan sebagai suatu kerelaan (volunteer). Dalam hal ini individu akan bersedia untuk menghabiskan jam kerja dan usaha yang lebih untuk menciptakan peluang usaha yang baru.

  1. Appropriate reward system

Dengan menerapkan sistem reward untuk menghargai setiap energi, usaha, dan pengambilan resiko dalam membuat suatu usaha yang baru. Hal ini penting untuk memotivasi dan mendatangkan jumlah aktifitas dan usaha yang dibutuhkan untuk sukses.

  1. Sponsors and champions available

Lingkungan perusahaan yang menguntungkan yaitu dengan memiliki sponsor dan pemenang yang kemudian tidak hanya akan mendukung aktifitas kreatif tetapi juga flexibilitas dalam perencanaan untuk membaung tujuan dan arah baru yang dibutuhkan.

  1. Support of top management

Dukungan dari top management baik dari kehadirannya secara fisik maupun kemampuannya dalam memastikan bahwa terdapat sumber daya manusia dan keuangan yang tersedia.

ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP
Dalam lingkungan perusahaan, karakteristik individu tertentu telah diketahui yang dapat membentuk pengusaha korporat yang sukses. Setidaknya terdapat 7 karakteristik yang harus dimiliki seorang pemimpin perusahaan untuk menjadi pengusaha korporat yang sukses: mengerti lingkungannya, visioner dan fleksibel, membuat pilihan manajemen, mendorong adanya teamwork, mendorong adanya diskusi terbuka, membangun sebuah koalisi dari para pendukung, dan gigih.
(Baca lebih lanjut tentang Entrepreneurial Leadership: klik disini)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s